Feed me!

Tampilkan postingan dengan label deep heart. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label deep heart. Tampilkan semua postingan

26 Desember 2012

Pledge



Two years ago, 
We had a big fight
He said something
That make me promise myself

That i would save this conversation
So i can re-read it again
Every time life 
With the people around
Messes with my head
and make me doubt him (again)

"Orang tua kamu itu yg melahirkan kamu, 
ngasih makan kamu, 
menyekolahkan kamu, 
sampai gede dan cantik seperti sekarang, 
maka wajarlah kalau 
kamu harus mendahulukan kebahagiaan mereka

Aku siapalah, 
cuma orang asing yg krn jalan hidup harus ketemu kamu,
merampas kamu dari orang tuamu, 
merampas hak kamu untuk membahagiakan orang tua kamu?

Kalaupun pada akhirnya 
kamu benar-benar memilih hidup dengan aku, 
aku berharap tidak ada embel-embel
bahwa aku ini seperti "perampok" kehidupanmu

Apalagi harus memberi jaminan kebahagiaan, 
bahkan besok pagi aku masih hidup pun 
aku ga bisa jamin itu

Makanya, jangan pernah kamu minta jaminan sama aku

Kalo menjamin aku tidak sanggup, 
bukan kuasaku untuk menggaransi sesuatu, 
padahal apakah aku besok masih hidup ga bisa aku jamin

Tapi kalo yang kamu tanya 
apa bisa aku mengusahakan untuk bisa bahagia, 
itu jawabannya pasti iya..."

:')

Happy Anniversary dear...
Here's to the 2 years we've shared together
and hopefully many more to come

Your presence in my life is such a joy and blessing
Thank you for making me a better me
:*

link

13 November 2012

Love

Baru saja selesai membaca ini
Seperti membaca sebuah kisah yang sangat familiar
Kisah saya sendiri

Ya, saya juga memanggil dia
pria kesayangan saya
dengan sebutan Bli :)

Membaca judul postingan nona teal ini
Membuat hati saya ikutan sedih.

I used to play that scene too
Over and over in my head
How would i introduced him to my mom?

Itu saya alami 2 tahun lalu.
Saat saya masih bekerja jauh dari Jakarta
Bertemu Bli, tidak pernah masuk dalam rencana saya
Kembali ke Jakarta pun sebenarnya saya enggan

Tetapi akhirnya saya kembali
Dengan semua ketakutan saya
Mempertemukan kedua orang yang saya sayangi

Pada saat itu tiba,
saya hanya mengenalkan Bli dengan namanya
bukan dengan status siapa-nya saya

Saya takut ibu saya tidak suka
Saya takut dia keberatan
Saya takut dia akan langsung melarang
Saya takut kalau saya (di)harus(kan) 
memilih antara mereka berdua

Terkadang memang saya itu terlalu banyak mikir
(Sok) menganalisa bagaimana kalau begini-begitu

Kemudian lupa

Bahwa mereka berdua itu sama
Kedua-duanya menyayangi saya

Sebanyak saya ingin membahagiakan ibu saya
Dia juga ingin yang baik untuk putrinya.

Pada suatu pagi, sambil menghirup kopi
Ibu saya tiba-tiba bilang begini : 

Kamu sudah besar bisa memilih sendiri
Pikir baik-baik - ingat umur, 
Nanti sudah serius malah putus lagi

Saya menjawab (sambil susah payah menahan air mata) :
Iya mam...

I dunno if that's called mom instict
or i'm simply an open book for my mom
But i seriously can't keep a secret from her :)

Mungkin tidak se-positif atau se-antusias
Ibu-ibu yang ngomongin calon menantunya
Tetapi itu sudah lebih dari cukup buat saya

She trusted me
And that's enough

Dan hingga saat ini
Saya jaga baik-baik kepercayaan itu

Sebenarnya apa yang akan terjadi besok
Saya juga tidak tahu

Sekarang kalau saya mengingat-ingat masa itu
Mungkin tidak sama persis seperti kisah mereka
Tetapi kalau boleh saya share sama nona teal :

Show your mom
How happy you are 
when you're with him
How free you are
How he changed you
Into a better girl

I'm not a fortune-teller
But i know for sure
She love you
No matter how stupid your mistakes
or how uncertain you made your choices
For her, you always be her little daughter

I don't know that 2 years ago
Now i know
That's why i'm sharing this with you
:)

Semangat ya Nona Teal
Kalau semua mulai terasa berat dan tak menentu (lagi)
Cobalah ingat kata-kata Bli ini :
Niat baik selalu menemukan jalan(nya)

10 Oktober 2012

Framed


I thought i never get through this phase.
Life is... indeed fair in the end.

I thought i'd never feel this sadness
But yet i feel the sting in my heart.

I thought this tears won't be for you anymore
It form in the corner of my eyes when i read the news.

This undefined feeling
i don't even know why it exist.

Maybe it's because this is the time to say
Goodbye.

I had framed you in my little gray cell
Now i had to change it

Because this time
that picture would contain you and her.


Ooh, how am I gonna get over you?
I'll be alright, just not tonight...


Sara Bareilles - Gonna Get Over you


link

20 Februari 2012

Dream


This is a dream i wanted to scream out loud hopelessly

source

10 Februari 2012

Rejection

It's heartbreaking to find out a good friend in the past has no interest whatsoever to stay in touch with you in the presence. ~Sera.

Setiap hari adalah perjuangan, dimulai dari kita bangun pagi sampai mengakhirinya ketika menutup mata untuk istirahat. Menyemangati diri sendiri itu lebih susah daripada sekadar bangun pagi. Ga setiap saat kita bisa ber-positive thinking, am i right? Untuk itulah kita butuh orang lain, untuk menginspirasi kita atau kalau kita beruntung mau peduli juga dengan kita. Katanya Carole King, that's what friend's are for.

Ini cuma teori saya, tetapi saya (selalu) merasa saya punya masalah dalam berteman. Ada beberapa tahapan dalam berteman kan? stranger > kenalan > teman > sahabat. Dan mungkin memang begitu adanya, bahwa yang namanya sahabat itu langka, karena kebanyakan berhenti di tahap teman. Or worse, back to the start being stranger :(

Life happen and people changes. Saya mengerti dan menerima itu. Friends come and go, from highschool, college and work. Saya harus mengakui bahwa hanya di antara 658 orang yang berlabel "friend" di halaman facebook saya, hanya beberapa yang benar-benar bisa saya sebut teman. Memang saya sih termasuk golongan dork (i am and i'm okay with it) atau sederhananya saya tidak tahu cara berteman.

Semasa kuliah saya punya seseorang yang bisa saya sebut sahabat. Tetapi memang mengucapkannya tidak semudah mempertahankannya. Kita berkenalan di semester awal, kemudian menjadi tidak terpisahkan, terbukti dari pertanyaan teman sekelas yang bergonta-ganti bertanya pada saya atau dia setiap kali melihat kita jalan sendiri di kampus. Bangga? oh jelas, karena sahabat saya itu orang ekstrovert yang bisa masuk golongan apapun di kampus, dan dia memilih jadi sahabat saya.

Saya memang masuk golongan biasa-biasa saja, tetapi saya menghargai sekali sebuah hubungan, entah itu pacaran atau temanan bahkan sekedar kenalan. Ada garis tipis di antara ketiganya, based on kadar perhatian. Seperti yang pernah saya baca, persahabatan bagai kepompong, membuktikan ada KEPO di dalamnya. :)))

Dia, sahabat saya itu, tipe orang yang 'perhatian' (kalo ga mau dibilang kepo ya) pada semua temannya. Bahkan ketika pertemanan kita ini melebar hingga 7 orang, dia punya jadwal, hari ini jalan dengan siapa, besok jalan dengan siapa. But yeah she's the center of our circle. Saya setuju banget dengan Miund yang nge-tweet begini :

 "Film AADC itu bukti kalo di dalam sebuah geng pasti ada sub geng. Case in point : Cinta sama Alya. Cant help it. Cant be close to ALL."

Masalah terjadi ketika, mungkin saya yang kegeeran, saya pikir saya lah yang paling best friend. How absurd yah, sudahlah best friend masih pake paling :))) Dan ternyata teman-teman yang lain berpikiran demikian. She's a favourite friend to hang out with.

And then she move to another circle, teman-teman yang lebih gaul dan lebih kaya. Lebih menyakitkan lagi bahwa dia 'mengambil' teman saya juga. Butuh waktu yang lama buat saya membiasakan diri, setiap dia berkunjung ke kos, bukan kamar saya lagi yang dia tuju tetapi tetangga kamar saya.

Where did we go wrong?

I blame the mistakes on me. Mungkin saya yang kurang gaul, kurang kaya dan mungkin kurang teman! Tidak pernah terlintas dalam pikiran saya mungkin saja dia jealous karena saya (saat itu) punya pacar lebih dulu. Sebelum dia 'berubah', kita bahkan biasa jalan bertiga. Mungkin saya yang kurang peka.

Sejak saat itu, dia menjauh dari saya. Kita memang sesekali bertemu. Tetapi rasanya hambar. Terkadang saya kangen dia, mungkin juga dia kangen dengan saya. But things were never be the same again. Karena sekarang saya melihat dia dari sudut pandang yang berbeda, kacamata itu sudah pecah dan saya terpaksa menggunakan kacamata yang baru untuk memandang dia.

Saya melihat dia sebagai orang yang insecure, ingin eksis dan berada di lingkaran yang lebih besar. Kesederhanaan yang dulu saya kagumi dari dia mulai tergantikan dengan hal-hal yang nge-trend saat itu. Dia yang saya kenal dulu apa adanya, sekarang menjadi ada apanya. Itu bukan hal yang salah, itu pilihan dia, saya pun memaklumi itu. Dan kalaupun karena berteman dengan saya menjadikan dia golongan orang yang kuper, mungkin memang wajar kalau dia mencari teman yang lebih dari saya.

Ceritanya selesai?

Tentu tidak, kalau sudah selesai pasti tidak akan mengganggu pikiran hingga membuat saya meracau tidak jelas di postingan kali ini. (ah biasanya juga random kan Sher :P) Karena berasal dari satu almamater yang sama, dia selalu muncul di newsfeed saya, apalagi saat dia baru memiliki smartphone. Oh yeah dia meng-add blackberry messenger saya kok, tetapi hanya berkomunikasi saat ada perlunya saja.

Pertamanya saya sungguh tersiksa, mungkin karena sebenarnya saya tetap mengganggap dia sahabat saya, padahal kenyataannya tiap kali saya mencoba entah berkomentar di statusnya atau menyapa di BBM, tanggapannya tidak seantusias saya. Terkadang saya pikir apa gunanya social media bahkan messenger kalau toh tidak membuat pertemanan kembali erat. Dan saya sadari kemudian, yang namanya hubungan hanya bisa berjalan kalau ada niat dari keduanya, bukan dari satu pihak saja.

i rest my case.

Hingga saat ini, saya masih sering merasakan cubitan kecil di hati saya setiap kali saya membaca statusnya yang ada dimana-mana. Padahal cuma membaca lho. Mungkin saya terlanjur menjadikan dia role model seorang sahabat, padahal kenyataan sudah berbeda jauh dari harapan saya. Mungkin juga dia mengingatkan bahwa saya tidak segaul dia dan teman-temannya *ini apa-apaan ya gaul melulu dari tadi :)))*. Mungkin juga saya cuma sedih, ya sedih karena saya belum ikhlas memaafkan diri saya sendiri.

Saya yang belum bisa berdamai dengan kenyataan, bahwa saya dan dia bukan sahabat lagi seperti dulu. Bahwa pertemanan kita cuma jadi masa lalu. Sekarang menjadi hal yang aneh kalau ada yang menanyakan kabar dia kepada saya, karena saya tidak tahu lagi tentang dia. I don't know her anymore.

Saya tidak tahu kapan bisa menghilangkan perasaan tidak enak ini, atau saya harus membiasakan diri dengan penolakan. Perasaan tidak diinginkan itu memang menyakitkan, tetapi kita memang tidak bisa mengubah orang lain bukan?

Mungkin saya yang harus belajar berteman (lagi).

A smart girl knows how to love, a smarter one knows who to love.

11 Januari 2012

Hold On


First post on this year!

I know i should be glad, but to be honest... i don't.

A new year should begin with a new hope, a new life, a new beginning while me.. i'm losing mine. I don't want to sound so pessimistict but the urge to be bitter person is getting higher everyday.

Yesterday i had another interview (again), and they tested me with some accounting basic knowledge. I can't answer a single question, and i feel very stupid, i had to hold my tears until i get back home. Never ever in my life i feel so powerless.

Yes i come from engineering background study, yes anyone would understand why i can't pass the test. But that event really make me realize where am i stand now. I'm always in the middle of nowhere. I never get specialized. Manusia setengah-setengah, i'd say.

They say build your dream as high as possible, cause that"s what you do when you dreaming, right? Limitless and full of hope. Now i'm questioning myself : do i pick my dream that high? should i compromise? should i lower my standard?

They say, money doesn't define you. Yeah, right. Almost 2 months unemployee, i had lost my confidence and losing up my hope soon, but i still holding on tight to my sanity.

Tell me, how long do you fight for your dream (job) until you had to give up to reality?

14 Desember 2011

Dearest



It's been a year since your last birthday
I even didn't remember how you spend this day a year ago
All i know, i was far away from you, from this town
But i managed to send you Pramoedya's second book that you love


This year, i already planned for some gift
I think about buying the third book 
*but that's so lameeee*
I think about those National Geographics DVD that you bought 
*but you already bought 3 pieces last time we hang out*
I think about fish n chips menu 
*but there would be nothing left as memento from me :(*

14 Februari 2011

Grateful

Someday, someday, we'll be together ~ John Legend - Someday

Untuk kamu :

Yang menerbitkan harapan dalam hati
Yang menghibur waktu aku sulit
Yang percaya bahwa aku BISA
Yang membuat aku percaya lagi dengan mahluk bernama "laki-laki"
Yang menghangatkan hari dengan perhatiannya
Yang membuatku bertahan saat ingin menyerah
Yang menyukaiku bahkan sifat-sifat jelekku
Yang mengatakan aku 'baik' walaupun aku tidak selalu merasa begitu
Yang mampu membuatku merasa cantik setiap hari
Yang membuat aku ingin menjadi diriku yang lebih baik lagi
dan terutama...

Yang tidak pernah menyerah & pergi karena keadaan ini

Selamat hari ini sayang
We will make it through, you know that right?
Love you, as always.

8 Desember 2010

It's Complicated


i know this day will come.

Dan aku menyesal, karena kemarin-kemarin tidak menuliskan perasaanku.
Kalau saja aku menyimpan catatan hatiku kemarin itu.
Saat semuanya masih merah muda.
Mungkin bisa mengingatkan aku akan masa-masa,
rasanya semua bisa dilalui asal bersama kamu.

But every good times, must come into an end kan?
Sebenarnya aku bukan membicarakan perpisahan.
Tetapi hari ini, hari dimana tiba-tiba semuanya tidak cukup.


24 September 2010

I Miss Old-Me


You miss him, don't you? Thing is, I didn't mention a name... and he popped in to your mind almost instantly...

Akhir-akhir ini, semesta dengan segala keajaibannya menggiring pikiran saya menuju masa lalu. Entah sudah keberapa kali saya mengalami dejavu, serendipity, atau apalah namanya itu. Semuanya mengingatkan saya pada mereka. Ya mereka, karena yang saya ingat lebih dari satu orang, mereka-mereka yang pernah dekat di hati, yang pernah saya sayangi dengan sepenuh hati.

Padahal sesungguhnya, saya paling sebal kalau diingatkan soal masa lalu. Karena buat saya, masa lalu identik dengan kegagalan. Saya benci gagal, saya benci jadi orang yang kalah. Itu pula sebabnya, biasanya saya bereaksi berlebihan kalau sudah menyangkut orang-orang dari masa lalu itu. Sejujurnya, masalah bukan ada di mereka tetapi lebih kepada saya yang belum 'berdamai' dengan diri sendiri.

Mungkin ini kebetulan semata, saya bertemu dengan orang baru, teman baru, yang untungnya menjadi teman berbagi kacamata yang baik. Saya menertawakan konsep "jodoh" yang dia percayai. Sebenarnya bukan karena saya tidak percaya, toh saya percaya anything happen for a reason. Saya cuma takut untuk berharap.

21 Juli 2010

I'm On My Way


Just a girl in a car on a lonely highway
I’ve been up and down this winding road
It’s getting dark, the stores are closed
The map is wrinkled, my coffee’s turned to grey


Hampir lima bulan sudah saya berada di tempat ini.
Keadaan saya lebih baik dari kemarin.
Tetapi bukan berarti cobaan saya sudah usai.
Justru semakin banyak yang saya hadapi setiap hari.

26 Februari 2010

See You Again


Sometimes I wonder what lies ahead
How long till my hunger is fed
They say it's hard to make it in this part of town
So many people on this merry-go-round

Some folks try astrology
Some turn to crystal balls
To find an answer,
To get through it all
I just fall on my knees and I try to pray
In the silence I can hear Him say...

All I Know



I bruise you
You bruise me
We both bruise so easily
Too easily
To let it show
I love you
And that's all I know

15 Januari 2010

Miss Something?



Corrinne May - Fly Away

When will you be home?" she asks
as we watch the planes take off
We both know we have no clear answer
to where my dreams may lead
She's watched me as I crawled and stumbled
As a child, she was my world
And now to let me go, I know she bleeds
and yet she says to me

14 Januari 2010

Rebound Guy




Okay, i have a confession to make [not like you had to know it though] but i’ll make it as my easy way to relieve. Bukan untuk mencari pembenaran karena tanpa dijudge benar atau salah pun, i’ve already pay my price dengan feeling guilty everytime i remember it. But i promise after this one, i will put down that burden. Saya tidak mau membawa-bawa penyesalan dalam gendongan saya lagi.

21 Desember 2009

Celebrating Mother's Day

Kasih ibu kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi tak harap kembali
Bagai sang Surya menyinari dunia

Lagu ini selalu menyentuh hati saya karena mengingatkan saya dengan mama saya. Bagi tiap orang, mama masing-masing selalu yang terbaik untuk diri sendiri. Because there is no other love like a mother's love for her child.

Mama saya sudah menikah di umur 19 tahun, setahun kemudian memiliki anak pertama yaitu kakak saya. Saya lahir 3 tahun kemudian kedua adik saya. Hubungan saya dengan mama awalnya tidak begitu dekat bahkan waktu kecil saya sering sekali iri sama kakak saya, terutama saat mereka berbicara berdua saja talking something i didn’t know. Membuat saya merasa mama ‘direbut’. Saya sering di bilangin : Mau tahu aja, ini urusan orang gede. Mungkin itu juga yang bikin saya addict minum kopi. Buat saya boleh minum kopi itu kayak lisence bahwa saya sudah ‘gede’, karena dulu saya lihat yang minum kopi itu ya cuma orang2 dewasa, si papa, si mama, atau bapak2 yang bertamu ke rumah. Sekarang saya bisa minum kopi bercangkir-cangkir tapi satu hal yang saya sadari kemudian : Jadi ‘gede’ itu ga ada hubungannya sama minum kopi Sher!

6 Desember 2009

Soak Up The Sun

Semalem abis nge-klik post this entry, seraya menyeret kaki ke kamar mandi, while brush my teeth, this thought popped-up in my head :


"So you want your own sun eh, kenapa kamu tidak coba, menjadi sun itu sendiri Sher?"


27 November 2009

Deserve to be Happy? Le Fin


Suatu saat saya diantar mama ke poliklinik, karena maag saya kumat lagi, Selama saya kuliah, saya hidup sendiri jauh dari orang tua, tetapi kena maag hanya karena masalah begini. [shame on you, Sher!] It was just the two of us, karena biasanya saya harus ‘berbagi emak’ dengan saudara2 saya yang lain. That time, she’s mine only. Dan mama saya bilang sambil menangis akhirnya “Mau sampai kapan kamu kaya begini? Kamu memang ga cerita, tapi mama tau, mama bisa merasakan yang kamu alami. Kalau itu memang pilihanmu, mama ga akan melarang. Tetapi kalau jadinya membuat kamu sakit dan sengsara, mama sungguh mati ga rela…” Saat itu saya memang lagi menye2 akut banget yang kerjaannya nangis mulu tiap hari [yes, sampe semellow-sumellow itu saya jadinya]. Sepotong kalimat dari mama saya bagaikan menampar saya, membuat saya sadar betapa selama ini saya sangat egois. Saya pikir saya yang paling menderita, dikejar2 pertanyaan “I deserve to be happy kan?” saat itu dari dalam hati saya ada yang menjawab “siapa yang tidak, Sher?

Deserve to be Happy?


Back to 7 months ago

7 bulan yang lalu, and i'm happy to tell that i'm doing fine (now). Sampai saya membaca status "in relationship" di profile orang itu [say hello to my curiosity]. First, i feel stunned..then angry..with a little bit sad.. but in the end i feel relieve. Bingung? i told you, saya yang ngerasain aja bingung sendiri, kenapa bisa perasannnya nano-nano gitu. After all these times, the memory still live inside my head.

I'm not the kind of girl who loves talking about marriage (no offense ya ladies ^^). For me it's just another drama in this life. Saya ga bilang menentang orang yang memilih untuk menikah dan kawan2nya. Mungkin ini cuma salah satu pertanda i'm not deal with myself, well yes i do. Bahkan in a harsh way, saya pikir menjadi seorang istri (dan seorang ibu pada akhirnya) apa bedanya dengan pembantu? (no offense lagi yaa). Kerjanya 24 jam sehari, 7 hari seminggu nonstop, masi mending jadi pembantu dong bisa dapat jatah cuti dan uang lembur. Tapi itu kan saya saat pikirannya masi sempit dan belom ketemu contoh2 lain yang working on happily marriage. But, still i don't find one damn good reason, why you wanna say "i do". Even yang mengajak adalah your bf, and that's when the things getting worse. Anda boleh tertawa, i break up with my bf, karena alasan simpel : saya ga mau nikah.



Reaksi temen [yang akhirnya berani bertanya setelah berspekulasi macam2 tentang bubarnya hubungan saya] juga banyak, tapi semuanya satu suara : menyayangkan keputusan saya.

Nanti lu ga laku lho, jadi perawan tua
Emg kenapa nikah muda, nanti kelamaan lu susah punya anak lho
Lho biasanya cowo yang takut komitmen, koq ini kebalik sih?

Believe me, I’ve been haunted with those question too. Almost 3 months ketika sedang ‘didiamkan’ sama bf, sampai saya punya keberanian untuk bubar sama dia. And deep down in my heart saya sungguh percaya, dia juga menginginkan itu, dengan mengkondisikan supaya saya akhirnya yang maju duluan dan mengakhiri hubungan ini [Dasar laki2! ups sori] In that mean time, disela2 sakit maag [damn!] saya merasa stuck. Baru kali ini saya merasakan terjepit ditengah2, antara saya menyesali masa lalu, ketakutan dengan masa depan, dan saya tidak bisa hidup di masa kini karena terlalu sibuk khawatir. Saya memutuskan hubungan dengan seseorang yang sudah bersama saya selama 5 tahun, demi mengejar kata hati saya yang bilang he’s the right one. Dan ketika saya sudah bersamanya, saya menyadari betapa berbeda nya orang ini dibandingkan sebelumnya [ever heard kan orang baru keliatan aslinya saat kepepet?]. Dan saya worried [a lot], apakah saya bisa terus bersama dia, even he keep breaking my heart by pushing me to do something I don’t want to. But I just don’t wanna be alone. Yang ada dalam pikiran saya saat itu : hey, saya sudah melepaskan hubungan yang penuh jaminan untuk mengejar pilihan hati dengan sungguh2, saya mencoba jujur sama perasaan sendiri. I DESERVE TO BE HAPPY after all of my sacrifice. Dan tanpa saya sadari itu lah belenggu saya yang terus menyiksa dan jadi duri dalam daging.

Am not saying he’s not nice, dan saya pun percaya dia sungguh2 waktu menceritakan impiannya about married in young ages [kadang2 saya merasa lebih ‘laki2’ daripada dia]. Dia bela2in kenalan sama bokap [menakutkan lho], dia mengundang saya ke rumahnya supaya kenal dengan keluarganya. Buat saya yang ga punya impian semacam itu, tentunya cuma bisa mendukung apalagi dengan tawaran “Maukah kamu membantu saya mewujudkan impian itu?” Ladies, you feel me? Apa susahnya membantu, apalagi untuk our dearest one?

Dan kemudian impiannya berubah menjadi impian kita. Yang saya pikir, we’ll take it slow [hey, buat saya ini sangat ekstrim, krn I never think about that before] ternyata he want it NOW. Saya merasa terseret2 mengikuti ‘impian kita’, I’ve no idea, no passion kecuali menyenangkan hati my bf. Bukankah yang namanya ‘impian kita’ itu seharusnya membuat saya sebagai bagian darinya happy kan? Yang ada saya semakin ketakutan, membayangkan Bagaimana saya bisa hidup dengan seseorang yang tidak bisa berkompromi dengan saya? Saya tidak merasa dicintai lagi. Saya merasa seperti obyek yang dia pakai untuk memenuhi ambisinya memenuhi target nikah muda dan punya anak tiga. Bukan pribadi saya yang dia mau, tapi seorang yang bisa dikasi label “istri” not to mention siap dibuahi.

Tetapi impian dan realita ga selalu sejalan. Perbedaan pola pikir, budaya dan segala macam tetek bengek [yang tadinya kita pikir bisa dihadapi bersama] ternyata menghadapkan kita pada kenyataan bahwa kita tidak bisa menikah sekarang [sejujurnya ini melegakan buat saya]. And he’s going berserk. Sikapnya berubah sampai saya merasa tidak kenal siapa dia lagi, yang terlihat di mata saya hanya seperti anak kecil yang ngambek karena tidak mendapatkan keinginannya. How can a man who thinks he’s mature enough, yang menegur saya “kamu dewasa dikit sih, inget umur dong:” malah melancarkan ilmu perang dingin sebagai sebuah solusi masalah. Berani2nya ngajak nikah, tetapi ada kendala malah ngilang.

Saya tidak punya masalah membantu mencapai impiannya, that time I would do anything for him [iya-iya love is blind katanya kan] But it takes two to tango, tidak semua bisa berjalan sesuai keinginannya. Bagaimana dengan keluarga, dengan saya yang jadi partnernya? Sampai saat ini saya sungguh ga mengerti konsep pernikahan apa yang ada di benaknya. Sederhananya mungkin saya bukan orangnya yang bisa memenuhi impiannya. Tapi saat itu saya berusaha sekuat2nya untuk mengerti dan berusaha kompromi dengan keinginan dia. Untuk jadi yang dia mau. Dan ini yang membuat saya jatuh sedalam2nya. In the first place, dia yang memohon supaya saya mau menjadi pasangan hidupnya. How could he say this and treat me bad way in the end?

I always say, hal yang paling kejam yang bisa dilakukan laki2 terhadap perempuan bukanlah mengambil keperawanannya [tanpa mengecilkan arti perawan itu sendiri]. Saya harus menyampaikan ini dengan hati2 karena ini isu sensitif. I mean, seorang wanita tidak akan mati karena kehilangan keperawanannya, tapi dia bisa mati [like every human do] ketika dia kehilangan rasa percaya dirinya, impiannya, keinginan untuk hidupnya. Sekali lagi, tolong jangan membaca ini secara harfiah, karena saya tidak dalam posisi mau memojokkan korban rape. Menurut saya, seorang laki2 bisa melakukan hal lain untuk bisa mengakibatkan damage yang sama hebatnya dengan raping. Ketika kamu berada dalam sebuah hubungan, where you feel unwanted, not needed, feeling guilty all the time, merasa bodoh, tidak berharga, merasa jelek, tetapi kamu tetap bersamanya karena kamu takut tidak ada yang mau lagi sama kamu kecuali dia. He’s raping you. Not physically, but mentally. And the bad news is, girls.. kamu lah yang mengijinkan itu terjadi.. atas nama cinta.

Saya merasakan ada dua orang dalam diri saya yang bertengkar hebat, maybe itu hati dan pikiran saya.
Hati saya bilang : hey, dia sudah bilang I love you, dia melamar kamu, dimana lagi kamu bisa dapetin cowo kaya gitu, sabar aja kenapa sih?
Dan pikiran saya bilang : Apa iya yang katanya sayang sama kamu, tapi koq memaksakan kehendak, ga mau menunggu sampai kamu siap dulu, mau gitu hidup sama orang kaya gitu? Seumur hidup lho bo.

I know there’s lot of people more suffer than me, coba lihat ada yang kelaparan dan kekeringan. But that time saya merasa jadi orang yang paling sengsara sedunia, Cuma mampu tenggelam dalam rasa mengasihani diri. Orang2 disekitar saya bilang : auramu jelek banget sih, koq keliatan kayak ‘lost’ gitu? Saya memang tetap beraktivitas seperti biasa [thank God saya masi punya kerjaan]. I’m in that point, ketika melihat bayangan diri sendiri di cermin, saya benci apa yang saya lihat. Siapa sih mahluk jelek itu, ga heran ya dia ga mau sama saya, saya aja benci melihatnya. Saya merasa pantas ga diperjuangkan sama dia. Dan tau ga, sesungguhnya saya sadar ini tidak baik, tetapi saat itu saya tidak tahu caranya keluar dari perasaan rendah diri akut itu.

To Be Continued...